Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

4.05.2010

Hutan Mangrove sebagai Tujuan Wisata


Pada tahun 2003, hutan bakau/mangrove di Indonesia yang mengalami kerusakan sekitar 68 persen, atau 5,9 juta hektar, dari luas keseluruhan 8,6 juta hektar (baca di sini dan juga di sini). Rusaknya hutan bakau lebih banyak disebabkan oleh ulah tangan manusia sendiri. Dengan berbagai macam alasan, penebangan hutan bakau terus berlanjut. Padahal, hutan bakau sangat cocok sebagai pelindung di kawasan pantai yang berlumpur.

Untuk memperbaiki kondisi ini, diperlukan perubahan sikap dan persepsi masyarakat. Pasalnya, selain berfungsi menjaga daratan pantai berlumpur dari gerusan ombak, peredam gelombang (baca di sini) dan tempat hidup dan berbiaknya biota laut (baca di sini), kawasan hutan bakau juga berpotensi dikembangkan sebagai wisata alam.


Wisata alam? apa yang indah di lihat di kawasan hutan mangrove? Tak percaya?? Sebenarnya berwisata di kerumunan hutan bakau adalah suatu pengalaman petualangan yang tak terlupakan (baca di sini).

Tulisan di bawah ini adalah pengalaman saya sekitar tahun 2003, saat berkunjung dan berwisata “blusukan” di tengah kawasan hutan bakau di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, yang termasuk dalam kawasan hutan konservasi di Propinsi Bali.

*****

Hutan mangrove di Bali tersebar di beberapa lokasi pada areal seluas 3067,71 Ha, terdiri dari 2177,5 Ha berada dalam kawasan hutan dan 890,21 Ha di luar kawasan hutan. Tiga lokasi terluas dimana terdapat hutan mangrove adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai (1373,5 Ha), Nusa Lembongan (202 Ha), dan Taman Nasional Bali Barat (602 Ha).

Kerusakan hutan mangrove akibat perubahan fungsi hutan menjadi tambak dan penebangan kayu yang berlebihan terus terjadi dan semakin parah dari tahun ke tahun. Untuk mengurangi tingkat kerusakannya, Departemen Kehutanan melalui Proyek Pengembangan Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari dibantu JICA melaksanakan proyek pada tanggal 4 Nopember 1992 s/d tahun 1999. Tujuannya adalah untuk melaksanakan investasi guna mendukung kegiatan reboisasi dan pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan. Hasilnya adalah rehabilitasi hutan mangrove seluas 253 Ha.

Proyek ini dilanjutkan dengan proyek lanjutan sebagai sarana pendistribusian hasil proyek terdahulu kepada masyarakat dengan memperkuat sistem penyuluhan dan pengelolaan hutan mangrove secara lestari, pada tanggal 15 Mei 2001 dan direncanakan berakhir tanggal 14 Mei 2004 dengan nama Proyek Pusat Informasi Mangrove (Mangrove Information Center/MIC).

Denah dan rute jembatan kayu Tahura Ngurah Rai

Jembatan kayu (trail) di Tahura Ngurah Rai

Kantor MIC berada di tengah kawasan Tahura Ngurah Rai, mempunyai areal persemaian (nursery) seluas 7700 m2 dengan fasilitas jembatan kayu (trail), pondok peristirahatan (hut), dan geladak terapung (floating deck), dengan 13 jenis mangrove mayor, 9 jenis mangrove minor, dan 28 jenis mangrove associates. Selain itu terdapat 62 jenis burung, 32 jenis crustacean, dan 10 jenis reptil terdapat di Tahura ini.

Karakteristik habitat hutan mangrove, adalah :

*
Umumnya tumbuh pada daerah pasang surut yang jenis tanahnya berlumpur, berlempung, atau berpasir.

*
Tergenang air laut secara berkala.

*
Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat.

*
Terlindung dari gelombang besar dan arus pasut yang kuat

*
Air bersalinitas payau (2 – 22 permil) hingga asin (38 permil)

Adapun manfaat dan fungsi mangrove, adalah sebagai :

* Peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi, penahan intrusi air laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen.

* Penghasil sejumlah besar detritus (hara) bagi plankton.

* Daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya.

* Penghasil kayu konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.

* Pemasok larva (nener) ikan, udang, dan biota laut lainnya.

* Habitat bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptil, dan mamalia.

* Tempat wisata.

selengkapnya......

Air terjun Dlundung, Trawas, Mojokerto



Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan beruntung punya banyak objek wisata alam di pegunungan. Ini penting sekali bagi orang Surabaya untuk melepas penat setelah kerja keras selama satu minggu. Tiap akhir pekan banyak orang Surabaya yang rekreasi ke pegunungan.


Menghirup udara segar, menikmati alam pegunungan yang sejuk. Maklum, udara di Surabaya sangat panas, bisa tembus 35-37 derajat Celcius pada puncak kemarau. "Akhir pekan kami sekeluarga, kalau gak ada halangan, mesti ke pegunungan," tutur Willy, pengusaha di Surabaya. Naik pegunungan itu bisa berarti Prigen, Tretes, Pacet, Ledok, Pujon, Batu, dan seterusnya.

Salah satu objek pegunungan yang bagus dinikmati adalah air terjun [kerennya: waterfall]. Ada tiga air terjun bertetangga: Kakekbodo, Putuktruno, Dlundung. Nah, Minggu 6 Januari 2007 saya menengok air terjun Dlundung di Trawas, Mojokerto. Ini kali pertama saya ke sana.

Jalan relatif bagus. Dari Sidoarjo [macet di Porong karena lumpur lapindo], Pandaan, masuk Raya Trawas, lalu berbelok ke arah Dlundung. Ada papan nama cukup besar. Para tukang ojek siap memberikan petunjuk kalau kita bingung. Sekira dua kilometer dari jalan raya, menanjak, sampailah di pintu gerbang.

Bayar karcis Rp 3.500 per orang [termasuk asuransi Rp 100]. Ini retribusi untuk Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Beda dengan Kakekbodo atau Putuktruno [kedua air tejun ini di Kabupaten Pasuruan], kita bisa bawa kendaraan bermotor hingga di depan air terjun. Parkir, lalu jalan kaki sebentar saja sampai. Tak perlu ngos-ngosan macam di Air Terjun Kakekbodo.

Cipratan air terjun menambah sejuk suasana. Ada sensasi tersendiri. Kita bisa merasakan kebesaran Tuhan, berefleksi, di depan air terjun sekira 50-60 meter itu. Volumenya kecil saja. Suara air yang konstan, menghantam batu-batu gunung, asyik disimak. Di sini tidak begitu ramai karena lokasinya relatif jauh ketimbang Kakekbodo dan Putuktruno.

Saya perhatikan mayoritas pengunjung anak-anak muda. Mereka membawa pasangan [pacar] masing-masing. Bikin acara sendiri-sendiri. Khas anak muda, remaja, yang baru kenal nikmatnya berkasih mesra. "Memang yang datang ke sini umumnya anak-anak muda. Tapi ada juga lho keluarga yang bawa anak-anak," tutur Riyati, pemilik warung. Ibu ini didampingi Lia, anaknya.

"Sampean kok sendiri? Nggak bawa pasangan?" tanya Bu Riyati.

"Maunya sih pacaran, tapi ketuaan," jawab saya sekenanya. Bu Riyati, Lia, dan beberapa pengunjung tertawa lebar. Suasana makin gayeng. Saya pesan mie rebus, teh hangat, untuk sarapan. Lalu, saya bertanya sedikit tentang kondisi wisata alam Dlundung, Trawas, nan alami itu.

Air terjun Dlundung bukanlah objek wisata kemarin sore. Pada era Hindia Belanda lokasi ini sudah sering dikunjungi tuan-tuan dan nyonya-nyonya Belanda untuk rekreasi. Pada 10 Februari 2007, Carolina Lenkiewicz-Andreiessen alias Rieki berkunjung ke rumah Bapak Max Arifin [seniman, tokoh teater Jawa Timur, kini almarhum] dan Ibu Sitti Hadidjah di Mojokerto. Rieki ini anaknya Gerardus Andriessen, arsitek terkenal pada masa penjajahan Belanda.

Gerardus membangun banyak gedung bersejarah di Jawa, salah satunya kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Surabaya. Rieki kebetulan membawa album kenangan semasa di Jawa Timur. Di antaranya, air terjun Dlundung, Trawas, pada tahun 1934. Hebat benar orang Belanda! Dokumen lama pun masih dirawat dengan sangat baik.

Sebaliknya, kita di Indonesia lemah dalam urusan arsip dan dokumentasi macam ini. Bisa saya pastikan, Pemkab Mojokerto tidak punya foto masa lalu Dlundung atau objek wisata lain di Mojokerto. Harus cari di Belanda dulu! Hehehe.....

Membandingkan air terjun Dlundung pada 1934 dan 2008 sungguh jauh berbeda. Di foto lawas itu aliran air sangat deras, tebal. Sekarang saya perkirakan tinggal 20 persen saja. Saya bisa bayangkan betapa gemuruhnya air terjun Dlundung pada masa Hindia Belanda. Sekarang gemuruh itu tak ada. Hanya kecipak-kecipak kecil saja. Kalau tidak dijaga baik-baik, hutan gundul, bisa jadi suatu ketika air terjun ini hilang.

Hampir satu jam saya berada di lokasi air terjun Dlundung. Tak banyak yang bisa digali dari objek wisata alam ini karena petugas maupun pedagang di Dlundung tak punya referensi sejarah. "Saya jualan, jam lima sore pulang," kata Ibu Riyati.

selengkapnya......

4.04.2010

gunung pringgondani


Di antara banyak petilasan di Gunung Lawu, ada satu yang akrab di keseharian penduduk Tawangmangu, yakni Pringgondani atau Pringgodani, pertapaan nun jauh di atas gunung.



Ke Pringgondani masyarakat datang untuk memperoleh kekuatan sekaligus dukungan atas upaya yang sedang mereka lakukan. “Tidak untuk meminta. Kalau kita sudah punya, tapi hanya sedikit, dan berusaha supaya punya lebih banyak, datang ke sana,” demikian kira-kira yang saya tangkap dari ucapan Pak Dasri, penduduk Tawangmangu, yang menyarankan agar kami mengunjungi tempat ini.

Letak Pringgondani di Kelurahan Blumbang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Kali ini benar-benar naik gunung. Pak Wagimin yang mengantar kami mengatakan bahwa hanya butuh waktu setengah jam berjalan kaki dari lokasi parkir sepeda motor, untuk mencapai Pringgondani. Sejak remaja, lelaki 40-an tahun ini sudah sering ke sana. Berangkat usai magrib, dan turun lagi pukul 1 pagi. Tak terbayang bagaimana dinginnya.

Dorongan keingintahuan membawa kami melepaskan diri dari antaran ojek yang luar biasa memudahkan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Lawu, dan kali ini hanya berjalan kaki. Awalnya jalanan masih datar, melewati kebun kol dan kebun cabe rawit. Di tiga perempat tinggi gunung terlihat dua air terjun kecil. Pak Wagimin bilang, kami akan ke pucuk air terjun yang paling atas.

Jalanan datar ternyata pendek saja. Lantas mulailah “tanjakan-tanjakan kesabaran”, berkelok-kelok di antara pohon-pohon pinus, menyusuri lekuk gunung. Melewati pohon yang melengkung membentuk gerbang, tapi tak dijumpai ranting-rantingnya. Hanya batang pohon tertancap, ujung satu di tanah, batangnya melengkung, lantas ujung lainnya menancap di dinding gunung. Ada aroma hio yang kuat tapi tak ditemukan di mana hionya.

Berpapasan dengan orang-orang ramah, tak kenal tapi semua menegur, “Monggo…”. Atau ketika kami duduk istirahat karena napas sudah demikian sesak, seorang ibu membesarkan hati, “Leren, nggih (istirahat, ya)? Saya kalau naik malah bisa sepuluh kali istirahat.” Ibu ini datang ke Pringgondani jauh-jauh dari Klaten.

Setengah perjalanan, baru ditemui satu warung minum, tempat peziarah sejenak istirahat, minum dan merokok. Di sinilah kami bertemu dengan ibu-ibu dan bapak-bapak, masyarakat setempat, yang jasanya disewa satu keluarga dari Surabaya untuk membawa barang-barang dari lokasi parkir ke Pringgondani. Mereka mulai lagi berjalan setelah tadi istirahat, dan ini sudah putaran kedua! Artinya tadi sudah sampai Pringgondani, turun, dan sekarang naik lagi. Banyak rupanya barang yang harus dibawa.

Setelah entah berapa kali duduk dan menyelonjorkan kaki, akhirnya tampak patung garuda dan prasasti yang jadi pintu masuk petilasan Pringgodani. Dan waktu yang dibutuhkan ternyata bukan setengah jam seperti Pak Wagimin bilang sebelum berangkat tadi, melainkan molor jauh hingga satu seperempat jam.

Sampai di sana, keluarga dari Surabaya itu sedang makan siang di warung tak jauh dari petilasan. Memang sudah waktunya makan siang. Hanya ada satu menu makan di warung satu-satunya ini. Mi instan rebus dengan irisan sayur kol. Tak ada menu makanan lain.

Ditemani teh tubruk hangat. Teh hasil bumi Lawu dan diolah sendiri oleh penduduknya ini punya aroma unik. Tak ada tambahan wangi melati, hanya aroma pucuk teh plus aroma hangus yang didapat saat pengolahan. Warung-warung makan di Tawangmangu umumnya tidak mau menggunakan teh lokal karena aroma hangusnya itu, dan lebih suka membeli teh kemasan. Hanya warung di ujung gunung ini yang bertahan menggunakan teh hasil bumi Lawu.

Bersama keluarga itu ada pula seorang bikhu dengan jubah warna emas. Namanya Tejapuño, asli Surabaya. Usianya kira-kira 30-an. Mereka sampai di sini juga belum lama, tapi masih tampak segar, tidak seperti kami yang mandi keringat, dan tentu ini mengundang keheranan.

Dengan nada tenang Bikhu Tejapuño menjawab, “Orang yang ke sini bertujuan cepat sampai kan memang beda dengan yang ke sini untuk menikmati perjalanan. Mau apa sih cepat-cepat? Apa yang dikejar? Pemandangan sepanjang perjalanan bagus sekali. Lebih baik dinikmati.”

Hal yang biasa jika peziarah menginap di petilasan. Umumnya semalam. Ada ruangan di samping sanggar, tersedia buat yang menginap. Keluarga dari Surabaya itu menginap di satu petak rumah di samping warung makan. Tak ditarik bayaran, kecuali sekadar pengganti biaya makan yang sepenuhnya ditanggung warung.

Pringgondani bukanlah tempat ibadah agama tertentu. Di masa lalu, di sini pernah hidup tokoh spiritual yang dikeramatkan masyarakat, Eyang Panembahan Kotjo Nagoro (kadang ditulis Ki Ageng Kaca Negara). Masyarakat meyakini Eyang Kaca tak lain adalah Raden Brawijaya, raja terakhir Majapahit, yang memindahkan kerajaannya ke Gunung Lawu setelah Majapahit dikuasai puteranya, Raden Patah.

Ada keyakinan unik, yaitu selama berada di petilasan, tidak boleh bercerita mengenai sejarah Pringgondani dan siapa Eyang Kaca, sebutan hormat warga Lawu bagi Ki Ageng Kaca Negara. Pamali. Lina Sulistyowati, petugas petilasan Pringgondani mengatakan, “Kalau di sini, tidak boleh bercerita. Kalau sudah di bawah, baru boleh.”

Petilasan ini berupa rumah ukuran 5 meter x 5 meter yang disebut sanggar. Di terasnya terdapat empat arca prajurit sedang duduk dengan sikap-sikap Buddha. Di dalamnya ada altar bertuliskan “Eyang Panembahan Kotjo Nagoro”. Tertancap payung di atas altar. Di depan altar terdapat bokor untuk menancapkan hio dan anglo. Altar inilah pusat kegiatan di Pringgondani, tempat orang menjalani laku prihatin dan bertapa.

Setiap hari selalu ada yang datang, kata Lina, namun Pringgondani paling ramai dikunjungi pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Sedangkan pada bulan Suro, tempat ini penuh selama sebulan.

Sebagai rangkaian laku prihatin adalah berendam di Sendang Gedang, Sendang Temanten, Sendang Kauripan yang letaknya tak jauh dari Pringgondani, dan suhu airnya mencapai 10 derajat Celsius. Tempat yang jauh untuk dijangkau, jalur menanjak yang menguras banyak tenaga, serta suhu dingin, mutlaklah syarat agar datang dalam kondisi tubuh prima. Silvia Galikano

*Dimuat di Jurnal Nasional Minggu, 12 Maret 2009*

selengkapnya......